otakku terlampau kelu...
jemariku mengekor kaku...
imajiku kini membeku...
pandanganku tak bertumpu...
senyumku tak tau arah menuju...
semua berrdasar padamu...
maut menungguku, sebab diracun rindu...
Tuhan... Jalan yang kami tapaki bukanlah jalan yang sepenuhnya suci... Kadang bukanlah jalan yang selalu kau berkahi... Tetapi kami berikrar di putaran loki yang tak terpuji... Maafkanlah kami yaa robbi... Di atas loki yang kau gerami... menua hingga nanti mati... Grow old together... Mengucap janji sampai mati... Kami saudara yang abadi...
... Sanja kuning di langit nang bakabut. Sasak dada lamun bahinak. Lainan jua nang dirasa humap. Kuningnya sanja kadada lagi pamalinya. Urang tuha kadada lagi nang manurutinya. Dimapa am lagi kami nang anum? Baapa kita maharap hujan banyu? Lamun pas kita tatiharap nang kita dapat angin ribut mambawa kalalatu. ... #MasihMelawanASAP
Jika benar tulisan bisa menggetarkan hati seseorang. Jika benar perkumpulan ini memanglah layaknya keluarga yang dipersatukan tanpa harus melalui hubungan darah. Jika memang benar hanyalah mati dan keinginan sendiri yang bisa memutus aliran keluarga ini. Maka aku ingin melihat, kakak-rekan-adikku yang terpisah dengan berbagai alasan berkumpul di tempat yang sama, misi yang sama serta visi yang serupa, kembali menjadi bagian di satu keluarga mengukir karya.
Ketika waktu bersekongkol dengan rindu yang tertuju padamu, tubuhku layaknya dihembus angin surga, namun perlahan angin itu pula yang mencekik udara yang masuk ke paru hingga maut menjemputku. Bisakah kau bayangkan sakitnya?