Playlist 20

Minggu, 27 Oktober 2013

Luka

Luka ini yang kurasakan.
Apa kau juga rasakan???
Luka yang tak pantas kau rasakan.
Kerinduan...

Banjarmasin, 27 Oktober 2013

Jumat, 25 Oktober 2013

Karya Si Burung Merak

Baru sebersit untaian kata itu terdengar, rasanya sangat nyaman untuk telinga. Penasaran mulai tak beraturan, langkahku pasti langkahkan kaki tentang sesuatu yang ingin ku ketahui. Ternyata, sajak si burung meraklah yang buatku seperti ini, karyanya sungguh tak lekang dimakan jaman, tak akan punah tersapu kemunafikan.


Kangen
Karya: Ws Rendra

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna cinta telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam KANGEN dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api.


Rabu, 25 September 2013

JANJI, dan Mentari Sore Ini Menjadi SAKSI.

Sudah sepantasnya untuk saya memenangkan ego terhadap apa yang saya yakini. Namun, mungkin banyak yang menyatakan bahwa saya sudah terlewat akan batasan-batasan yang ada. Sejenak saya menatap senja, Hidup mungkin tidak selamanya seperti yang kita pinta, seperti senja yang tak bisa bertahan lama pada tahtanya, nyatanya rembulan selalu akan menggantikan kejayaannya di atas singgasana. Tapi, satu hal yang saya selalu percaya, "Pergi atau Bahkan Mati, Bukan Berarti Besok Tidak ada lagi". Kalian kecewa karena tidak tahu arti dari perkataan saya? maaf, kali ini saya tidak meminta kalian menerka ambiguitas kata perkata. Sayalah yang akan menjelaskannya. 

Tentang kisah yang sudah ada diseparuh perjalanan tahun, tentang rasa yang gila, tentang sebuah makna yang sering mereka terka sebagai cinta. Munafik mereka yang menampikkan tentang rasa yang tercipta, tentunya mungkin saja tidak akan bertahan selamanya. Cinta yang bisa saja berpaling dari pemilik sebelumnya ke tempat yang semoga lebih pantas adanya. Tentu cukuplah sudah usaha untuk mempertahankannya, apa adanya setelah beberapa purnama saya menunggunya. Ini bukanlah ungkapan putus asa seorang manusia, bukan juga perwakilan rasa benci seperti yang kalian kira. Ini adalah kumpulan kalimat yang mewakili rasa, sudah saatnya bahagia melihat seseorang bisa membuatnya tertawa. Tapi, pengharapan tetaplah terjaga seperti sedia kala, tak berkurang sedikit pun esensi akan makna yang saya rasa. Rasa itu tetaplah ada, bertambah besar setiap harinya. Datanglah kala ingin kembali mencicipinya, dan saat ini biarlah semua saya kunci di suatu persegi yang kita utarakan sebagai hati.

Sudah saatnya, seperti sebuah coretan, akhiran tanda akan muncul mengakhirinya, jangan anggap semuanya sudah berakhir, sebab seperti sedianya yang saya percaya "Pergi atau Bahkan Mati, Bukan Berarti Besok Tidak ada lagi". Semoga kau mengerti, dalang dari semua inspirasi dari setiap kata yang tertulis "disini", Gadzra. Sudah saatnya semua menjadi seperti sediakala, selamat berbahagia.
Thanks For Love.

INILAH JANJI, Dan Mentari Sore Ini Menjadi SAKSI.


Penghujung Senja, Tepat Saat Mentari Tampakkan Keindahannya.


Banjarmasin, 25 September 2013

Sabtu, 21 September 2013

Penghujung Malam Sebuah Cerita

Selamat malam, mungkin ini bukan waktu yang tepat bagi saya meluangkan waktu untuk sekedar berbagi cerita yang saya sendiri pun bingung bagaimana harus menjelaskannya. Jadi, maafkan bila nantinya ada beberapa pembahasan yang melenceng kemana-mana, percayalah hal tersebut bukan sengaja, mungkin hanya terlalu asik saja. Cerita ini sudah bertahan cukup lama, sebagian mungkin sudah ada yang tahu karena ini bukan kali pertama saya bercerita, walaupun dalam konteks yang berbeda. Satu tangan dengan kelima jari yang lengkap tidak lagi cukup untuk menghitung lamanya cerita ini, walau hanya dalam satuan bulan, bukan tahun. 

Saya bingung. Jujur, tidaklah terhitung sudah kali keberapa tulisan ini mendapat imbalan "Ctrl+A+Backspace", sebab memang tidak sesuai dengan yang diharapkan sebelumnya. Terserah kalau tulisan ini nantinya akan dicap seperti apa, yang pasti saya hanya menjadikan tulisan sebagai media untuk berbagi cerita. Cerita yang berada dipenghujung malam ini sekaligus memperingati perayaan yang memang tidak lagi dirayakan. ya, saya punya kebiasaan, merayakan bukan pada awal perayaan, tapi pada akhir dimana malam akan segera berakhir. 

Inilah bulan keenam, dimana perayaan memang tak pantas lagi dirayakan, bukannya tidak mau melupakan, tetapi hanya kisahnya saja yang tidak mau lekang dari ingatan. Tolong jangan tanyakan soal perasaan, sebab hal itu kini tak pantas lagi diutarakan. Kalau pun ingin kalian tanyakan, janganlah berharap pada jawaban. Sebab, masihlah sama seperti sebelum hadirnya sesuatu yang kini dirayakan. Segalanya merubah satu hal, atau mungkin lebih tepat jika keadaan tersebut dinyatakan kebalikannya, satu hal itulah yang merubah segalanya. Hampir-hampir oksigen tak lagi sejuk saya rasa, saya bukanlah lagi saya. 

Semua hal mungkin perlu penyesuaian ke depannya, termasuk saya sendiri, tapi bagaimana jika saya menikmati semuanya? tawa, tangis, bahagia, duka, keceriaan, lamunan, memikirkan sesuatu, atau bahkan tidak bisa memikirkan apa-apa? ah, semakin panjang pembahasan ini, semakin sesak rasanya nafas yang saya dera. Bagaimana kalau kita sudahi saja tulisan ini? sesaknya semakin menjadi-jadi ternyata, walaupun tujuan awal dari tulisan ini belumlah bisa kalian tangkap untuk apa. Namun, percayalah  sebenarnya tujuan dari tulisan ini adalah keseluruhan cerita, tapi mungkinkah cerita bisa selesai? sedangkan tokoh dalam cerita memutuskan untuk memulai cerita yang berbeda dengan tokoh lain yang lebih sempurna?





Banjarmasin, penghujung malam 20 september 2013

September 2013

Selasa, 17 September 2013

Sebuah Perayaan.

Sore ini saya merasa berbeda, entahlah racikan kopi macam apa yang bisa menahan kantuk sebegitu dahsyatnya, mungkin juga hal ini disebabkan semua hal yang berkecamuk dikepala dan menuntut agar tidak hanya sebatas rencana. Semua sudah dipersiapkan dari jauh hari, tapi baru saja terfikir hari ini, satu persembahan mungkin tidak akan cukup untuk sebuah perayaan yang hanya terjadi setahun sekali. Lantas harus bagaimana? apakah harus menyeberangi lautan? mendaki puncak tertinggi guna mengabadikan sekuntum bunga abadi? atau malah menyelam ke dasar bumi dan mengatarkan pesan kerikil bebatuan yang berkilauan? ah kebiasaan, saya "ngelantur" kemana-mana jadinya. Maafkan saya.

Tulisan ini tidaklah lebih dari putik keegoisan yang kini telah diolesi serbuk sari keinginan manusia "slengean", seperti itu kan saya biasanya menggambarkan apa yang terpantul dari bayangan? :) saya bukanlah orang yang penuh dengan ide-ide brilian yang bisa membuat orang tercengang, bukanlah juga seorang yang mampu mempersembahkan mahkota ataupun untaian berlian untuk sebuah perayaan. Saya hanya bisa memberikan sesuatu, oh maaf, dua hal yang kini biasa disebut dengan pilihan. salah satu pilihan hanya menunggu giliran untuk direalisasikan. dan satunya? ya, tulisan inilah satu hal lagi yang bisa disebut dengan pilihan. Bukan hal yang tidak mungkin pasti terbersit untuk memilih keduanya, ya manusia. Tak apalah, karena hal tersebut juga disebut dengan pilihan, pilihan untuk memilih keduanya :)

Tulisan ini dibuat sesederhana mungkin, sesederhana niat yang diutarakan untuk memberikan pilihan bagi perayaan. Maafkanlah jika tulisan ini harus menyita waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan yang lebih berguna. Maaf.

Tidak perlu lagi mengucapkan hal-hal yang tidak berguna disini, mari kita tuntaskan pilihan kedua di perayaan ini. Selamat atas perayaan, selamat atas pencapaian makna, dan selamat bertambah tua :) untuk kamu. Gusti Athifah Adzra.


Sebatas sore tanpa pelangi di dalam kotak persegi.
Banjarmasin, 16 September 2013

untuk sebuah perayaan, 17 September 2013