Anak muda mengayuh sepeda tua, Tongkrongannya tas slempang dengan resleting menganga, Entah sudah rusak atau disengaja, Yang pasti majalah horison menyembul dari dalamnya. Sepeda dikayuh hingga berpeluh. Hingga keringat bertanding seperti telur puyuh. Kayuh dan terus kayuh tak peduli kakipun melepuh. Setelannya mutakhir, berupa celana gantung dan jaket yang lusuh. Riyut-riyut bunyi sepedamu, melodi unik dari sekian banyak manusia di bumi rapuh.
Entah nanti neraka ataukah surga imbalannya... Jangan coba mengekangku dalam duga... Jangan mengubahku ke arah yang kalian minta... Jangan pula mengucilkanku hanya karena kita berbeda... Anak panah yang terlepas dari busurnya, membelah udara, berlomba dengan suara. Ujung matanya tajam, siap menancap tembus dari kulit sampai ke ujung batu tempat sembunyi meringkuk. Polos akhlaknya tanpa harus kenal dosa ataukah pahala. Tanpa kenal ampun dari akar hingga ke pucuk. Mata pisau diasah di atas batu. Air matamu dan mataku melambangkan duka. Perasaan yang tak pernah kembali menentu. Bagai luka yang dibasuh dengan air cuka. Sekali lagi kutekankan, jangan berpegang pada prasangka...! Sebab hanya satu yang harus kalian percaya... Sesederhananya cinta yang kupuja... Rumitnya tali yang kita lilit di ujung cahaya...
kala kita tak akan pernah ingat lagi kapan kita tak sengaja berjumpa. Akan tiba waktunya, senyummu dan senyumku hanya bermuatan luka saat kau dan aku saling menghujamkannya. Derap langkah yang tercipta tak lagi sama. Derapmu seirama dengan derapnya, dan derapku masih sama, sama seperti sediakala kau mengayunkan janji beserta langkah kakimu menjauh dari sini. Lantas datang lagi lalu pergi untuk yang kesekian kali, saat keadaan sudah terkendali. Bukanlah mainan, hati yang sedang kau mainkan. Bukanlah syair untuk dinyanyikan, rintihan sebab sakit yang kau hidangkan. Aku sudah terlalu lama duduk ditepian ini, tepi yang mereka katakan diantara cinta dan benci. Aku melangkah maka terceburlah. Aku berdiam maka lemaslah. Melangkah berarti mati, berdiam berarti maut siap melingkupi.
Cinta itu gila, Ia bisa menghilangkan normalnya logika. Cinta itu prasangka, Ia bisa menebak tanpa mata harus terbuka. Cinta itu tak kenal waktu, Ia bisa datang di saat kau sudah membenciku. Cinta itu tak tahu malu, Ia bisa datang saat aku sudah tak berarti di matamu. Cinta itu tak pantang menyerah, Ia bisa terus maju tanpa kenal kata pasrah. Cinta itu tak pernah takut, Ia bisa menantang penciptanya tanpa sedikitpun menciut. Cinta itu paling kuat, Ia bisa bangkit walau badannya penuh luka sayat. Cinta itu ada di dalam hatiku, kunubuatkan untukmu, akankah kau berikan untukku?