Playlist 20

Minggu, 08 November 2015

Cinta Itu...

Cinta itu gila,
Ia bisa menghilangkan normalnya logika.

Cinta itu prasangka,
Ia bisa menebak tanpa mata harus terbuka.

Cinta itu tak kenal waktu,
Ia bisa datang di saat kau sudah membenciku.

Cinta itu tak tahu malu,
Ia bisa datang saat aku sudah tak berarti di matamu.

Cinta itu tak pantang menyerah,
Ia bisa terus maju tanpa kenal kata pasrah.

Cinta itu tak pernah takut,
Ia bisa menantang penciptanya tanpa sedikitpun menciut.

Cinta itu paling kuat,
Ia bisa bangkit walau badannya penuh luka sayat.

Cinta itu ada di dalam hatiku,
kunubuatkan untukmu,
akankah kau berikan untukku?


Banjarmasin, 08 November 2015

Selasa, 04 Agustus 2015

Lapisan Semu

Ketika mulut terbiasa mengucapkan kata Cinta, janganlah terpaku pada intensitasnya. 
Namun, coba telisik sedikit lebih dalam, lapis demi lapis atas kata yang di ucap. 
Tahukah kamu? 
Akan ada alasan yang hebat di dalam kata itu.
Sebab mampu membuatnya bertahan di lapisan dalam, lapisan yang tetap diam meski prasangka menghujam.
Adilkah kita jika menjatuhkan vonis atas kata cinta?
Benarkah kita atas perilaku yang belum kita tahu? ya... kita terlalu terpaku pada lapisan semu.
Lapisan itu, kita sebut dengan Penghakiman Atas Rindu.

Banjarmasin, 04 Agustus 2015

Minggu, 17 Mei 2015

apalah dayaku?

apalah dayaku, 
Senyummu masihlah menjadi senyumku.
bahagiamu mengalir bersama asaku.
tangismu air mataKu.
dukamu tetaplah deritaku.
yang berbeda hanyalah nyata dunia fana.
bahwa langkah ditentukan berbeDa.
entah siapa yang menentukannya.
entah apa yang dimaksud sang maha.
langkahmu menjauh, namun rasa tetap hiduP tak terbunuh.
aPalah lagi dayaku.
permataku berlalu, menghias khayal nan bias.
pergi, dari sini!

Banjarmasin, 17 Mei 2015

ada apa dengan huruf kapital tak beraturan di atas?

Selasa, 28 April 2015

Serupa Ucapan


DUA kaki yang tak pernah berhenti demi alam yang lestari.
BELAS angka yang menjadi acuan atas tujuan yang sama.
TAHUN demi tahun dilaluinya, angka pun dilambangkan atas usia.

Susah memang, namun hari inilah yang jadi buktinya.
Ibar-ibar yang tetap gagah membelah lautan yang tak selalu ramah.
Perasan air peluh bukanlah alasan untuk selalu mengeluh.
Atas nama lestarinya alam, kami harus bertahan.
Lamunan tuan puan yang harus jadi kenyataan.
Asas di atas alas segala kerja keras.

Soban akan terus ditumpuk, unggun demi unggun semalaman suntuk.
Euforia atas segala nikmat sang pencipta.
Weharima, teruslah ada disetiap hela nafasnya.
Akanlah terus bergema,
Nada rendah dan tinggi sebuah himne di bawah kibar bendera.
Getar dan getir setiap perjalanan,
Irislah ego kami tanpa sisa, hingga rasa pongah tak lagi menengadah.

Banjarmasin, 28 April 2015.
Untuk SEWANGI tercinta.

Nb:
Untuk kakak dan adik yang belum paham untuk apa puisi di atas, silahkan satukan kata dan huruf  kapital disetiap awal kalimat.
Kalaupun ada kata yang tidak dimengerti, dipersilakan untuk membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Semoga berkenan.

Salam Lestari…!!!
Lestari alamku,

Jayalah Sewangiku.


Senin, 20 April 2015

Tiga Bagian Sesudah Hujan.

Baru saja Aku dilewati oleh sang awan,
Tetes airnya kini telah hilang berjatuhan,
Cahaya senjapun kini bisa kupantulkan, 
Nikmatilah, saat kemelut awan sudah tak lagi berlarian.

Tetes airnya sedari tadi menghiasi pandanganmu,
Bergumpal dan bergumul menjadi satu,
Kepada apa pandanganmu tertuju?
Kepada siapa rindumu terpaku?
Saat hujan temani senjamu yang syahdu.

Beberapa inchi lagi terlihat dari sini,
Mendung nan kelabu siap menghampiri,
Cahaya jingga sedari tadi kunanti,
Mungkin segera akan berganti,
Dengan tetesan air yang jatuh ke bumi.

Banjarmasin, 20 April 2015


Tiga Bagian Sesudah Hujan