Petunjuk pagi.
Nyanyian alam.
Tarian mimpi.
Teriakan malam.
Matanya tajam, iris Aku hanya dengan kerlingan.
Pandangannya lekat, pekat racun ditubuhku.
Setetes air jatuh saat ia terpejam, gelap dunia tak bisa kumaafkan.
Nanar matanya jelaskan semua.
Jejal omongannya penuhi alam mimpi.
Sungging senyumnya, lebih manis dari madu lebah Apis Dorsata.
Manja tuturnya, hujam Aku tanpa boleh berfikir sehat dahulu.
Ah perempuanku, senyummu itu bak busur panah yang melesak, menembus dada sang panglima dari pasukan yang telah siap kalah.
Aku pernah mencoba melangkah dan meninggalkanmu.
Juga pernah berlagak pongah seakan telah melupakanmu.
Tapi Jahanamlah namanya, neraka yang menyiksaku atas dosa itu.
Dewata pun ikut murka, sebab pernah kuteteskan air dari mata indahmu.
Impaskah menurutmu?
Saat kau perangkap aku dengan rindu.
Penyesalan yang berserakan akibat ulahku menyiakanmu dulu?
Tak bergunalah aku, muram pagiku, tanpa Kau yang tak lagi mau kembali temani senjaku.
Banjarmasin, 26 Oktober
Playlist 20
Sabtu, 03 Januari 2015
Jumat, 17 Oktober 2014
Masa Ini
kita ada disini,
dikeadaan yang membuat cinta bisa saja memalingkan muka.
saat dimana harapan bisa saja tak lagi diacuhkan.
kisah kasih yang setiap saat bisa tersisih.
atau untaian kata puji yang yang akan diganti dicaci-maki.
sebegitu mudahkah semua itu berubah?
atau dari awal kesanalah kita mengarah?
hanya kitakah yang kalah?
atau, kita sudah tak perduli dengan apa yang dulu kita yakini?
kata mereka hidup itu tak mudah.
aku berkata kalau cinta tidaklah mudah perkaranya.
kau pernah mengucap bahwa cepat atau lambat otak akan mencapai titik lupa.
dan entah sadar atau tidak, kamu ataukah aku yang berjalan menjauh atau bahkan masih saja menikmati.
Sampai disini, atau akan kita lanjutkan nanti.
Banjarmasin, 17 Oktober 2014
Kamis, 16 Oktober 2014
Pilihan dan Pilihlah
Banyak pilihan selain bersembunyi di gelap malam.
Banyak jalan selain kebuntuan yang dipijak oleh kaki saat ini.
Banyak harapan selain khayalan yang penuhi otak seorang pemimpi.
Masih banyak keindahan selain kerusakan yang penuhi alam ibu pertiwi.
Mengapa kita masih bersembunyi?
Mengapa kita berhenti?
Mengapa kita tak berani berharap?
dan mengapa kita selalu meratap bukannya mencoba menatap?
Pahitkah itu,
Maniskah itu,
Bahagia, atau menderitakah nanti kita?!
Apa masih terdengar ronta cibiran dari mulut mereka?
Banyak jalan selain kebuntuan yang dipijak oleh kaki saat ini.
Banyak harapan selain khayalan yang penuhi otak seorang pemimpi.
Masih banyak keindahan selain kerusakan yang penuhi alam ibu pertiwi.
Mengapa kita masih bersembunyi?
Mengapa kita berhenti?
Mengapa kita tak berani berharap?
dan mengapa kita selalu meratap bukannya mencoba menatap?
Pahitkah itu,
Maniskah itu,
Bahagia, atau menderitakah nanti kita?!
Apa masih terdengar ronta cibiran dari mulut mereka?
Banjarmasin, 16 Oktober 2014
Selasa, 07 Oktober 2014
Alter Ego
Inikah dunia yang mereka sebut nyata.
Ketika kehilanganmu, kurasakan dera luka terkejam berupa penyesalan.
Pantaslah disebut curang, jikalau aku menyimpan dendam. Meski pada lelaki yang bisa membuatmu tertawa riang.
Sentum itu seharusnya ciptaku.
Senyum itu seharusnya untukku.
Senyum itu mestinya milikku.
Bahagia itu lebih sempurna jika denganku
Ketika kehilanganmu, kurasakan dera luka terkejam berupa penyesalan.
Pantaslah disebut curang, jikalau aku menyimpan dendam. Meski pada lelaki yang bisa membuatmu tertawa riang.
Sentum itu seharusnya ciptaku.
Senyum itu seharusnya untukku.
Senyum itu mestinya milikku.
Bahagia itu lebih sempurna jika denganku
Banjarmasin, 22 September 2014
Kali ini bukanlah ego diri sendiri.
Juga bukan melawan kehendak pemilik bumi.
Aku hanyalah sekedar menyatakan akan apa yang seharusnya kunyatakan.
Tentang impian yang dikhianati kenyataan.
Tulisan ini bukanlah perwakilan dari apa yang dirasakan.
Tulisan ini bukanlah perwakilan dari apa yang dirasakan.
Tapi sebuah harapan, serupa doa yang selalu dipanjatkan.
Tentang betapa tersiksanya aku tanpa cahayamu.
dilanjutkan di Batulicin, 7 Oktober 2014
Minggu, 21 September 2014
Refleksi (Pantulan)
Tidak akan bisa seseorang merasakan kehangatan jika ia belum pernah merasakan rasa dingin.
Begitu pula dikebalikannya.
Tidak akan bisa seseorang menggunungkan keyakinan jika ia belum pernah dihantam ombak keraguan.
Begitu pula dikebalikannya.
Tidak akan bisa seseorang menyerukan kebebasan jika ia belum pernah didakwa dalam suatu kungkungan.
Begitu pula dikebalikannya.
Tidak akan bisa seseorang mengagungkan kepercayaan jika ia belum pernah dikucilkan dalam suatu pengkhianatan.
Begitu pula dikebalikannya.
Tidak akan bisa seseorang ingin mempunyai satu lagi kesempatan jika ia belum pernah menyiakan disalah satu celahnya.
Bukanlah kebalikannya yang kupermasalahkan, tetapi...
Akulah yang telah membuktikannya.
Begitu pula dikebalikannya.
Tidak akan bisa seseorang menggunungkan keyakinan jika ia belum pernah dihantam ombak keraguan.
Begitu pula dikebalikannya.
Tidak akan bisa seseorang menyerukan kebebasan jika ia belum pernah didakwa dalam suatu kungkungan.
Begitu pula dikebalikannya.
Tidak akan bisa seseorang mengagungkan kepercayaan jika ia belum pernah dikucilkan dalam suatu pengkhianatan.
Begitu pula dikebalikannya.
Tidak akan bisa seseorang ingin mempunyai satu lagi kesempatan jika ia belum pernah menyiakan disalah satu celahnya.
Bukanlah kebalikannya yang kupermasalahkan, tetapi...
Akulah yang telah membuktikannya.
Banjarmasin, 21 September 2014
Langganan:
Postingan (Atom)