Playlist 20

Selasa, 17 September 2013

Sebuah Perayaan.

Sore ini saya merasa berbeda, entahlah racikan kopi macam apa yang bisa menahan kantuk sebegitu dahsyatnya, mungkin juga hal ini disebabkan semua hal yang berkecamuk dikepala dan menuntut agar tidak hanya sebatas rencana. Semua sudah dipersiapkan dari jauh hari, tapi baru saja terfikir hari ini, satu persembahan mungkin tidak akan cukup untuk sebuah perayaan yang hanya terjadi setahun sekali. Lantas harus bagaimana? apakah harus menyeberangi lautan? mendaki puncak tertinggi guna mengabadikan sekuntum bunga abadi? atau malah menyelam ke dasar bumi dan mengatarkan pesan kerikil bebatuan yang berkilauan? ah kebiasaan, saya "ngelantur" kemana-mana jadinya. Maafkan saya.

Tulisan ini tidaklah lebih dari putik keegoisan yang kini telah diolesi serbuk sari keinginan manusia "slengean", seperti itu kan saya biasanya menggambarkan apa yang terpantul dari bayangan? :) saya bukanlah orang yang penuh dengan ide-ide brilian yang bisa membuat orang tercengang, bukanlah juga seorang yang mampu mempersembahkan mahkota ataupun untaian berlian untuk sebuah perayaan. Saya hanya bisa memberikan sesuatu, oh maaf, dua hal yang kini biasa disebut dengan pilihan. salah satu pilihan hanya menunggu giliran untuk direalisasikan. dan satunya? ya, tulisan inilah satu hal lagi yang bisa disebut dengan pilihan. Bukan hal yang tidak mungkin pasti terbersit untuk memilih keduanya, ya manusia. Tak apalah, karena hal tersebut juga disebut dengan pilihan, pilihan untuk memilih keduanya :)

Tulisan ini dibuat sesederhana mungkin, sesederhana niat yang diutarakan untuk memberikan pilihan bagi perayaan. Maafkanlah jika tulisan ini harus menyita waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan yang lebih berguna. Maaf.

Tidak perlu lagi mengucapkan hal-hal yang tidak berguna disini, mari kita tuntaskan pilihan kedua di perayaan ini. Selamat atas perayaan, selamat atas pencapaian makna, dan selamat bertambah tua :) untuk kamu. Gusti Athifah Adzra.


Sebatas sore tanpa pelangi di dalam kotak persegi.
Banjarmasin, 16 September 2013

untuk sebuah perayaan, 17 September 2013

Senin, 16 September 2013

Mentari yang Menyinari dengan Caranya Sendiri

Sebuah sinar yang punya caranya sendiri.
Mendidik pucuk untuk menjadi pohon tanpa merengek pada yang memberi "nasi".
Masih segar dalam ingatan kita tentang sebuah makna.
Kita tertawa bersama, menertawakan hal yang mungkin tak ada gunanya.
atau tentang amarah yang meluap tanpa sebab yang pasti.
Ah, mungkin hanya aku yang belum menyadari.
Siapa bisa meyangka, sinarmu menua, dulu kuning sekarang jingga.
Tidak bisa kupungkiri, pagi pasti akan beranjak pada malam suatu saat nanti.
Hanya dengan ketulusan coba ku ucapkan lewat tulisan.
Mungkin juga tidak begitu berarti.
Tapi, aku hanya ingin mengungkapkan apa yang terbenam di sini, di dalam hati.
Selamat Bertambah Tua Bapa, Kaulah Sinar yang menyinariku dengan caramu sendiri.
Kaulah sinar yang menjadikan pucuk bertahan dalam kekejaman alam.
Terima kasih sinarku, Bapa ku.

Untukmu Bapa
Dari pucuk yang selalu menantikan sinar mentari


Mukri
Sejak 16 September 1948
Semoga Panjang Umur


Sebuah Persembahan dari Anakmu
Dedy Herwin Rendy
(vukalus)

Banjarmasin, 16 September 2013

Janji

    Entah sudah berapa banyak janji yang saya ingkari, entah berapa banyak juga janji yang sudah terpenuhi, terlupakan, atau malah didahulukan. Entahlah, sekarang satu batang rokok saya nyalakan, dengan janji bahwa pada isapan terakhir tulisan ini akan berakhir dan saya akan segera berteman mimpi, akan terpenuhi kah? Entahlah. Satu paragraf ini mewakili apa yang saya alami, tentang mimpi, janji, turut andil juga mengenai hati. tentang apa yang sudah tak mungkin bisa terwujud lagi, tentang hati yang terlanjur membenci, atau lebih tepatnya tentang hati yang sudah memilih untuk tidak bersama saya lagi. Lagi-lagi janji punya andil disini, saya tentunya harus menghormati pilihan hati, ya, saya terus berjanji. Tapi seakan terus ada janji yang belum terpenuhi, dan saya terus saja ingin melunasi, hutang-hutang yang mungkin sebentar lagi akan terbayar lunas, sesuai janji. Saya tidak berani berjanji, tapi saya akan menepati janji. Ah entahlah, dengan janji saya dibuat berjanji. Satu persembahan lagi, mungkin saya akan melunasi semua janji, setelah semua janji terlunasi. Entahlah, semoga ini bukan janji yang menuntut janji.


Banjarmasin, suatu pagi sebelum janji terpenuhi.
16 September 2013

Rabu, 11 September 2013

Saya Disini (pandangan satu sisi)

saya senang ada disini...
menatap bintang akibat kantuk yang tak kunjung datang...
saya senang berlama-lama disini...
kadang tertawa sendiri dan terdiam mengingat semua yang sudah dilalui...
saya senang dengan saat-saat seperti ini...
berangan dan melukis bayang di khayalan...
saya senang menyiakan waktu disini...
waktu yang dahulu kita lewati dengan canda dan segala ulahmu...
saya senang terdiam disini...
sebab badan sudah tak mampu untuk mewujudkan impian...
saya senang merayakan saat-saat seperti ini...
saat dimana tak ada batas untukku mengingatmu...
dan...
saya senang ada disini...
mengetahui kau bahagia bersamanya dan aku terkubur selamanya...



Banjarmasin, 11 September 2013

Selasa, 10 September 2013

Rencana dan Kejadian

Sebuah kejadian selalu berhubungan dengan sesuatu yang disebut dengan rencana, dan ketika kita menemui jalan buntu untuk menjelaskan "siapa" orang yang punya rencana tersebut dan mengapa rencana tersebut menjadi suatu kejadian, biasanya kita mengatakan bahwa itulah rencana-Nya. Baru saja, saya berada dalam sebuah perjalanan singkat, diatas haluan yang mungkin bisa berbelok kemana saja. Tentunya, saat itu selain TUHAN yang punya andil, otak sayalah yang merumuskan suatu rencana. 

Nah, disaat yang bersamaan otak ini juga tidak mau diam untuk berfikir, apa yang dia fikirkan? ya benar, sebuah rencana, mungkin ini karena hal yang membosankan, mungkin juga disebabkan oleh ketidakpuasan akan sesuatu yang terus saja membayangi ingatan. Ah, saya tidak hobi memikirkan semua itu, yang pasti dalam beberapa waktu kedepan, selain tiga huruf "PPL" yang sedang menyibukkan saya, akan ada realisasi akan suatu rencana atau metamorfosa suatu rencana menjadi satu kejadian.

Sebelumnya saya akan meminta maaf kepada siapa saja yang sudah sudi meluangkan waktunya untuk sekedar lewat dan membaca beberapa kalimat di atas, saya tidak akan menyatakan dengan gamblang kapan, kepada siapa, bagaimana, mengapa, dan rencana  apa yang akan saya realisasikan menjadi suatu kejadian. Seperti biasa, saya akan membiarkan kalian berimajinasi dengan ambiguitas kata yang telah saya sajikan.

Seperti biasanya, saya terlalu banyak bicara. semoga hal ini tidak mengganggu sedikit pun dalam persiapan untuk beberapa waktu kedepan. Saya mohon kalian sudi untuk sekedar mendoakan.


Banjarmasin, 10 September 2013